misteri situ lengkong panjalu
MisteriSitu Lengkong Panjalu Kab.Ciamis#misteri#penampakkan#horror#mistik#danau#situpanjalu#situlengkong#wisata
TumenggungCakranagara III wafat pada tahun 1853 dan dipusarakan di Nusa Larang Situ Lengkong Panjalu berdekatan dengan pusara Prabu Rahyang Kancana putera Prabu Sanghyang Borosngora. Raden Demang Sumawijaya Raden Sumawijaya pada tahun 1819 diangkat menjadi Demang Panjalu dengan gelar Raden Demang Sumawijaya.
EyangAdipati Hariang kuning (Situ Lengkong, Panjalu Ciamis) 2. Eyang Boros Ngora (Situ Lengkong, Pandjalu Ciamis) 3. Kiai Layang Sari (Rantjaelat Kawali Ciamis) 4. sehingga menjadi sebuah misteri yang belum tersingkap. Sumber Bacaan Ayatrohaedi: Sundakala, Cuplikan Sejarah Sunda Berdasar Naskah-naskah Panitia Wangsakerta Cirebon. Pustaka
1 Eyang Adipati Hariang kuning (Situ Lengkong, Panjalu Ciamis) 2. Eyang Boros Ngora (Situ Lengkong, Pandjalu Ciamis) 3. Kiai Layang Sari (Rantjaelat Kawali Ciamis) 4. Uyut demang (Tjikoneng Ciamis) 5. Eyang Rengganis (Pangandaran Ciamis) 6. Sri Wulan (Batu Hiu, Pangandaran Ciamis) 7. Eyang Adipati Wastukentjana (Situ Pandjalu Ciamis) 8.
MitosSitu Lengkong Panjalu Ciamis, dari Harimau Kembar hingga Larangan Warga Sumedang Menikahi Orang Sini Kisah Misteri Tanjakan Emen Jalur Subang Bandung. Kamis, 28 Juli 2022 | 19:49 Kamis, 28 Juli 2022 Kamis, 28 Juli 2022 | 20:03 Kamis, 28 Juli 2022 | 20:03. Mitos Situ Cibeureum Tasikmalaya, Mencari Ketenangan di Makam Keramat. Jumat
Rencontre En Ligne Gratuit Et Sans Inscription. Ciamis merupakan salah satu daerah potensial wisata di Jawa Barat. Oleh karena itu tidak heran, jika Ciamis memiliki banyak tempat wisata yang bisa dijadikan alternatif untuk mengisi waktu liburan. Salah satunya objek wisata Situ Lengkong yang berada di kecamatan Panjalu kabupaten Ciamis. ‘Situ’ dalam Bahasa Indonesia memiliki arti ‘danau’. Ketika kamu berkunjung kesini, kamu akan disuguhi dengan pemandangan danau yang begitu luas dan tenang dengan kondisi lingkungan sekitar yang masih terlihat asri dan indah. Sejak pandemi Covid-19 hadir di Indonesia, situ ini sempat tutup selama hampir 6 bulan terhitung sejak bulan Maret 2020. Namun pada akhir Agustus, objek wisata ini mulai dibuka kembali dengan menerapkan protokol kesehatan bagi para wisatawan yang hendak berkunjung. Objek wisata Situ Lengkong Panjalu berada di sebelah utara kota Ciamis. Jaraknya sekitar 35 km dari pusat kota. Jika menggunakan kendaraan pribadi, kamu memerlukan waktu tempuh sekitar satu setengah jam perjalanan. Petunjuk arah untuk menuju kawasan wisata ini cukup lengkap, namun jika kamu merasa kesulitan menemukannya, kamu bisa menggunakan aplikasi google map untuk menuju ke lokasi. Harga tiket yang ditawarkan untuk memasuki kawasan wisata Situ Lengkong ini sangat terjangkau, yakni sekitar Rp. per orang. Sedangkan untuk biaya tambahan, kamu harus menyiapkan untuk harga tiket parkir motor sekitar Rp. dan untuk mobil sebesar Rp. Tempat Ziarah di Situ Lengkong Panjalu Di tengah Situ Lengkong Panjalu, terdapat areal hutan seluas 57 hektare yang di dalamnya terdapat makam seorang ulama penyebar agama Islam di wilayah Panjalu, yaitu Prabu Hariang Kencana atau Borosngora atau Sayid Ali bin Muhammad bin Umar. Untuk menuju ke tempat ziarah, kamu harus menaiki perahu wisata dengan tarif Rp. per orang. Kamu tidak perlu khawatir jika perahu yang kamu temui sering terlihat penuh, sebab jumlah perahu disana diperkirakan ada banyak yaitu sekitar 22 perahu. Selain spot foto yang bertemakan danau dan alam yang masih asri, kamu juga perlu menyiapkan sejumlah uang jika hendak mengunjungi objek wisata ini, karena disini terdapat banyak warung souvenir yang menjual pernak-pernik dan oleh-oleh khas Panjalu yang sayang jika kamu lewatkan. Willy/Djavatoday
Ciamis - Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, dikenal sebagai tempat wisata ziarah yang memiliki sejumlah tempat keramat dan tradisi budaya yang menarik. Di Panjalu juga terdapat sebuah danau dengan pulau kecil di tengahnya bernama Situ tempat keramat dan tradisi yang ada di Kecamatan Panjalu yang menarik untuk Situ LengkongSitu Lengkong ini memiliki panorama indah dengan luas sekitar 64 hektar. Pulau di tengahnya bernama Nusa Gede atau Nusa Larangan sebagai daya tariknya. Tempat tersebut selalu menjadi tujuan wisatawan saat berziarah sebagai peninggalan Prabu Borosngora yang merupakan Raja Panjalu, penyebar Islam di wilayah tersebut. Situ Lengkong ramai setiap akhir pekan, wisatawan yang datang dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bandung hingga wilayah Jawa Timur. Di situ ini wisatawan bisa menaiki perahu mengelilingi danau atau pun menyebrang ke Nusa Gede. Di tengah pulau itu terdapat makam Raja Panjalu yaitu Prabu Hariang area Situ Lengkong terdapat berbagai toko yang menyediakan berbagai oleh-oleh khas Panjalu dan Ciamis. Ada juga beberapa rumah makan yang menyajikan makanan khas beruntung, wisatawan bisa melihat kawanan kalong kelelawar besar yang beterbangan di tengah pulau Nusa Gede. Fenomena itu pun menjadi salah satu daya tarik Situ Situ Lengko ini biasa dijadikan oleh-oleh para peziarah. Air yang ada di Nusa Gede ini berasal dari situ, kemudian disuling ke atas dan disaring, disimpan dalam penampung air. Sehingga wisatawan maupun peziarah tinggal memutar keran untuk minum, berwudu maupun dibawa pulang dengan ditampung pakai botol menurut sejarah, Situ lengkong ini terbentuk dari air zamzam yang dibawa Raja Panjalu Prabu Boros Ngora dari Timur Tengah, setelah menimba ilmu Islam kepada Sayyidina Ali Raja Panjalu Prabu Boros Ngora awalnya bukan seorang muslim. Ia dikenal seorang yang hebat, sering menantang seseorang yang jago itu Prabu Boros Ngora berjalan menuju Timur Tengah dan bertemu dengan Sayyidina Ali, lalu bertarung dan mengakui kehebatan Sayyidina Ali hingga memutuskan menjadi muridnya. Prabu Boros Ngora menjadi seorang muslim dan namanya diganti menjadi Syeh Abdul pulang, Prabu Boros Ngora mendapat oleh-oleh pesang dan air 'zamzam' di wadah gayung, tapi gayung itu bolong. Setelah sampai di Panjalu, lalu ditumpahkan di lokasi Situ Bumi AlitBumi Alit bisa dikatakan juga museum tempat menyimpan benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora dan benda pusaka Kerajaan Panjalu. Uniknya Bumi Alit ini dipagar dikelilingi pohon waregu. Dalam bahasa Sunda Bumi Alit berarti rumah pusaka yang tersimpan di Bumi Alit yang paling terkenal, Pedang Zulfikar yang merupakan oleh-oleh dari Sayidina Ali RA kepada Prabu benda pusaka lainnya adalah Cis atau tombak bermata dua, keris komando, keris, pancaworo atau senjata perang zaman dulu, bangreng, gong kecil, kujang dan tahun pada bulan Rabiul Awal atau Maulid, benda pusaka di Bumi Alit itu dikeluarkan untuk dibersihkan. Tradisi membersihkan benda pusaka itu disebut Upacara Adat membersihkan pusaka. Foto Dadang Hermansyah/detikJabar3. Upacara Adat NyangkuUpacara Tradisi Nyangku atau tradisi pencucian benda pusaka peninggalan Prabu Borosngora digelar pada bulan Mulud di hari ganjil Senin atau Kamis. Sekaligus sebagai peringatan Maulid Nabi Muhammad ini biasa diikuti oleh ribuan warga Ciamis dan luar daerah seperti dari wilayah Jawa Nyangku diawali dengan mengeluarkan sejumlah benda pusaka peninggalan Raja Panjalu dari Bumi Alit. Pusaka lalu diarak dibawa dengan cara digendong diais oleh para keturunan Raja Panjalu dan warga terpilih. Diiringi dengan solawat dan alat musik gembyung menuju Nusa Gede Pulau di tengah Situ Lengkong Panjalu.Pusaka dibawa kembali ke Taman Borosngora untuk dilakukan ritual Jamas. Membersihkan dengan cara mencuci benda pusaka. Menggunakan 7 sumber mata air dari beberapa tempat atau disebut 'Cai Karomah Tirta Kahuripan'.Pembungkus pusaka dibuka lalu dibawa ke tempat pembersihan yang terbuat dari bambu yang terletak di tengah taman. Dibersihkan menggunakan air dan jeruk nipis. Setelah dibersihkan pusaka diolesi minyak khusus lalu dibungkus kain putih dan disimpan kembali ke Bumi sudah dilakukan sejak zaman dulu secara turun temurun untuk merawat benda pusaka. Tujuannya untuk mengenang jasa Prabu Sanghyang Borosngora yang telah menyampaikan ajaran Islam. Untuk melestarikan budaya dan melestarikan peninggalan zaman dulu.
Situ Lengkong atau Situ Panjalu berada di wilayah Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis. Kata situ’ berarti danau, sedangkan lengkong’ baca léngkong sendiri bermakna senada, yakni teluk bagian pinggir sungai besar, atau pelebaran di bagian belokan saluran air Kamus Basa Sunda Danadibrata. Danau ini berada pada ketinggian 700 meter di atas permukaan laut dan memiliki luas lebih kurang 67,2 hektar. Sebuah pulau bernama Nusa Larang atau Nusa Gede terletak di tengah-tengah danau tersebut. Asal-usul Situ Lengkong menurut cerita rakyat yang diwariskan seraca turun temurun dan berdasar pada Babad Panjalu, sebagaimana tercantum pada laman Wikipedia, menyatakan bahwa sebenarnya danau tersebut adalah 'danau buatan' atau hasil usaha manusia. Sejatinya, menurut cerita itu, tempat tersebut asalnya merupakan sebuah lembah yang mengelilingi bukit kecil bernama Pasir Jambu pasir berarti bukit, Basa Sunda, red. Bagaimana kisahnya sehingga lembah tersebut menjadi danau? Syahdan, ketika Sanghyang Borosngora, putra Raja Panjalu yang bernama Prabu Cakradewa, selesai berguru agama di Tanah Suci Mekah, maka ia pun pulang kembali ke kampung halamannya dengan membawa beberapa oleh-oleh atau cenderamata. Salah satunya, air zamzam yang diwadahi di dalam tampungan ajaib berbentuk gayung batok kelapa yang bagian bawahnya berlubang bolong. Wadah unik tersebut dinamakan gayung bungbas’. Gayung Bungbas atau Gayung Kerancang tersebut merupakan pemberian dari ayahandanya, yakni Prabu Cakradewa, Raja Panjalu. Wadah tersebut diserahkan kepada Sanghyang Borosngora bersama perintah untuk menuntut ilmu kesempurnaan sejati sebagai bekal sebelum melanjutkan tahta. Sebelumnya, Sanghyang Borosngora pernah berkelana menuntut berbagai ilmu kesaktian ke banyak tempat di nusantara, tetapi ternyata saat diuji di hadapan ayahandanya, ia diketahui memiliki rajah/tato ilmu kekebalan yang berasal dari Ujung Kulon. Kepemilikan ilmu tersebut dianggap tabu bagi keluarga kerajaan Panjalu karena bertentangan dengan 'ajaran karahayuan'. Maka Prabu Cakradewa menghukum’ anaknya dengan perintah menuntut ilmu sejati dan menetapkan tanda kelulusannya berupa mampu membawa air menggunakan Gayung Bungbas. Gayung itulah yang kemudian berisi air zamzam dan dibawa Sanghyang Borongora ketika pulang dari pengembaraan. Setibanya di Panjalu, air zamzam dari dalam Gayung Bungbas itu kemudian dikucurkan di sebuah lembah yang mengelilingi tempat bernama Pasir Jambu. Ajaib, karena kesaktiannya maka lembah tersebut berubah menjadi sebuah danau, sementara Pasir Jambu yang berada di tengah-tengahnya kemudian diberi nama Nusa Larang yang berarti Pulau Larangan atau pulau yang disucikan. Situ Panjalu. Foto © uce_hidayah. Keberadaan pulau Nusa Larang ini, jika diamati, senada seirama dengan penyebutan terhadap kota Mekah, yakni bermakna Tanah Haram’ atau tempat yang disucikan. Sebutan tersebut membawa konsekuensi berupa pembatasan atas akses masuk ke dalam kawasan. Terdapat ketentuan tentang siapa, kapan dan tatacara ketat yang mengaturnya. Tidak sembarang orang boleh masuk ke Nusa Larang dan tabu sekali melakukan pantangan di tempat tersebut. Nusa Larang pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu pada masa pemerintahan Sanghyang Borosngora. Pulau tersebut kemudian menjadi tempat peristirahatan terakhir jasad para pemimpin Kerajaan Panjalu, yakni Prabu Rahyang Kancana putera Sanghyang Borosngora, Raden Tumenggung Cakranagara III, Raden Demang Sumawijaya, Raden Demang Aldakusumah, Raden Tumenggung Argakusumah Cakranagara IV dan Raden Prajasasana Kyai Sakti. Hingga kini, Nusa Larang masih terus dikunjungi para peziarah karena keberadaan makam tokoh penyebar agama Islam yang dimuliakan dan menziarahinya diyakini akan membawa keberkahan.
Lokasi Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat 46264 Map Klik Disini HTM Buka Tutup – No. Telepon – Hal Menarik❤️Asal Mula ❤️Nusa Larang❤️Selalu Ramai❤️Upacara Adat❤️ Hal Menarik❤️ Ada banyak hal yang menarik yang bisa dikupas dari sebuah tempat wisata yang sering dikunjungi sobat traveller semua. Cerita tersebut bermacam-macam adanya. Biasanya, cerita mistis dan mitos yang mengiringi keindahan suatu tempat. Pulau Jawa adalah salah satu pulau yang masih mempercayai hal-hal yang berbau klenik dan mistis sebuah tempat wisata. Walaupun, tempat wisata tersebut sudah ramai dan banyak dikunjungi orang. Namun, cerita mistis yang berkembang tetap saja terus berkembang. Cerita itu menjadi sebuah kekuatan untuk lebih mempromosikan tempat wisata tersebut. Entah mengapa banyak orang yang selalu tertarik dengan cerita mistis yang seakan menjadi sebuah magnet dan sarana promosi yang paling ampuh. foto by Salah satu cerita mistis yang bersanding dengan mitos yang begitu kuat itu bernama Situ Lengkong Panjalu Ciamis. Sebuah Danau yang berada di daerah Jawa Barat. Keindahan kawasannya hampir menyaingi keseruan kisah yang berkembang di kalangan masyarakat. Asal Mula ❤️ Prabu Cakradewa adalah Raja dari Kerajaan Panjalu yang mempunyai anak bernama Sanghyang Borosngora. Sebelum naik tahta, Prabu Cakradewa menginginkan anaknya untuk menuntut ilmu agama sebanyak-banyaknya terlebih dahulu. foto by Prabu Cakradewa memberikan sebuah benda bernama Gayung Bungbas untuk anak kesayangannya itu. Sanghyang Borosngora diketahui menuntut ilmu kekebalan. Ilmu yang ternyata dianggap tabu di lingkungan kerajaan Panjalu. Karena ilmu kekebalannya itu Sanghyang Borosngora di usir dari istana. Demi kebaikan, Ayahandanya menyuruh anaknya tersebut menuntut ilmu ke mekkah dan memberi Gayung. Fungsi dari gayung adalah Sanghyang Borosngora harus membawa cendera mata air zam-zam. Sepulang dari tanah suci, Sanghyang Borosngora pun membawa air zam-zam di gayung pemberian Ayahnya. Air itu pun lantas, dikucurkan di sebuah lembah dimana lembah tersebut dikelilingi oleh Pasir Jambu. foto by Aneh bin ajaib, dimana pasir yang disirami dengan air tersebut berubah menjadi sebuah danau yang cukup luas dan indah. Keindahannya mampu membius setiap orang untuk berlama-lama di tempat ini. Begitulah sejarah Danau Situ Lengkong menurut legenda masyarakat sekitar. Nusa Larang❤️ Situ Lengkong Panjalu sudah ditetapkan sebagai cagar alam yang dimiliki oleh Ciamis. Penetapan tersebut sudah terjadi begitu sangat lama. Pada saat pemerintahan Jenderal Hindia Belanda. Pada Tanggal 21 Februari 1919. foto by Kawasan yang mempunyai luas kurang lebih 5 Hektar ini memiliki sebuah tempat bernama Nusa Larang. Adakah sobat Traveler yang tahu? Apakah itu Nusa Larang yang masih berhubungan dengan Sanghyang Borosngora? Nusa Larang adalah sebuah tempat Pasir Jambu atau bisa juga kalau sekarang dilihat adalah pulau kecil. Konon katanya, pulau kecil ini adalah pusat pemerintahan Kerajaan Panjalu. Nusa Larang pun dahulu juga dipakai sebagai pusat penyebar agama islam di Panjalu. Nusa Larang berarti Tanah Terlarang yang diambil dari kota mekkah yang berarti kota yang disucikan. Nusa Larang menjadi tempat peristirahatan terakhir para piminan kerajaan Panjalu. Di Sini pula dimakamkan Prabu Hariang Kencana. foto by Selalu Ramai❤️ Makam keramat ini selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan yang berkunjung ke tempat yang juga menjadi situs tempat ziarah. Hanya saja, sering disalahgunakan sebagai tempat yang mendatangkan pesugihan. Salah satu tokoh yang menyebabkan Nusa Larang menjadi cagar budaya adalah Dr Sijfret Hendrik Koordres. Beliau adalah seorang ahli Botani yang menjadi pelopor mencatat berbagai jenis pohon yang berada di wilayah pulau jawa. foto by Dijadikannya Nusa Larang menjadi Cagar Alam merupakan sebuah hadiah yang sangat menyenangkan. Hasil dari kerja keras yang tiada henti. Memang, setiap orang yang tidak pernah kenal lelah akan menghasilkan apa yang diinginkannya. Sebagai sebuah Cagar Alam, Nusa Larang memiliki beragam jenis Flora yang enak untuk dilihat dan dipandang mata. Beberapa jenis Flora yang tumbuh di Nusa Larang adalah Kondang, Kileho, dan Kihaji. Tidak hanya Flora saja. Fauna pun tumbuh secara berdampingan menghadirkan sebuah pemandangan yang berbeda. Beberapa Fauna yang ikut berkembang di Nusa Larang adalah Tupai, Burung Hantu, Kelelawar. Serta masih banyak lagi jenis Fauna yang ada di sini. foto by Upacara Adat❤️ Selain keindahan danau dan berbagai macam kisahnya. Situ Lengkong Panjalu mempunyai salah satu daya tarik yang lain. Salah satu daya tarik itu adalah adanya sebuah upacara adat yang dilakukan dan menjadi agenda wajib masyarakat Panjalu. Upacara adat ini disebut dengan Nyangko. Masyarakat Panjalu biasanya melakukan upacara adat ini dengan membersihkan benda-benda pusaka yang di tempatkan di Bumi Alit. Biasanya, di laksanakan pada bulan Maulud di hari Senin atau Kamis akhir bulan. foto by Sebelum melakukan prosesi ini. Seluruh masyarakat Panjalu menyiapkan Beras Merah yang wajib di kupas dengan tangan, tidak di tumbuk. Beras Merah ini berfungsi untuk membuat Tumpeng dan berbagai macam sajen yang dilakukan tanggal 1 maulud. Benda pusaka akan diarak oleh keturunan Raja Panjalu. Biasanya, rombongan yang membawa benda pusaka ini memakai baju putih dan baju adat Sunda. Dengan menggunakan perahu mereka menyeberang menuju Nusa Larang dan dibawa di sebuah bangunan kecil. Diringi dengan menggunakan musik rebana dan sholawat. Di cuci dengan air yang diambil dari tujuh sumber mata air yang di tambah dengan jeruk nipis. Setelah di cuci benda-benda pusaka ini akan kembali dikembalikan di tempat pensucian Bumi Alit. foto by Upcara adat ini selalu rutin dilakukan. Bahkan sudah diwariskan secar turun-temurun. Masyarakat pun percaya dengan dilakukan upacara adat ini akan terhindar dari berbagai macam kejadian aneh. Entah mitos atau bukan, begitulah adanya. Situ Lengkong Panjalu adalah salah satu dari sekian banyak kisah dan cerita rakyat yang menjadi menarik. Salah satu tempat yang pas untuk menghabiskan waktu bersama dengan keluarga dan orang-orang yang dicintai. Menikmat danaunya yang begitu tenang. Si Gundul adalah nama Penanya, punya hobi jalan jalan, membaca, menulis dan mendengarkan musik adalah seorang penulis berasal dari Ungaran Kabupaten Semarang. Selain jadi Mahasiswa, Dia adalah salah satu penulis yang aktif mengunggah karya tulisnya di dan
Catetan DHIPA GALUH PURBA UPAMA aya nu hayang cai zamzam kalayan tacan kabiruyungan unggah ka Mekah, taya salahna nganjang baé ka Situ Léngkong Panjalu, Ciamis. Sabab, numutkeun carita rahayat, cai situ téh asalna tina sagayung cai zamzam anu dicandak ku Prabu Boros Ngora ti Mekah. Urang Panjalu ngarasa yakin, yén Prabu Boros Ngora téh minangka tokoh anu pangheulana ngagem agama Islam di Tatar Sunda. Jadi, puseur awalna kamekaran Islam téh di karajaan Panjalu, anu perenahna di Nusa Gedé, hiji pulo di satengahing Situ Léngkong. Kiwari legana Situ Léngkong téh kurang leuwih 57, 95 héktar, jerona kurang leuwih 4 nepi ka 6 méter, atawa 731 luhureun dasar laut, kalayan dilingkung ku pakampungan Cukang Padung, Dukuh, Banjar Waru, Simpar, Sriwinangun, jeung Pasanggarahan. Ari Nusa Gedé, legana kurang leuwih 19, 25 héktar. Prabu Boros Ngora téh putra kadua Raja Cakra Déwa ti praméswari Sari Kidang Pananjung. Mungguhing putra raja nu hanaang ku élmu, Prabu Boros Ngora apruk-aprukan nyukcruk pangaweruh. Malah kungsi salah léngkah, ngalap élmu kadugalan, anu satuluyna kénging bebendon ti ramana. Turunan Panjalu mémang dipahing ngalap élmu kadugalan, luyu sareng ajaran luluhurna, Ratu Permana Déwi, anu kakoncara ngagem élmuning karahayuan. Malah nami karajaan ogé apan asalna mah Soko Galuh. Digentos jadi Panjalu, taya sanés pikeun ngajénan Ratu Permana Déwi anu sakitu dipicinta ku rahayat Panjalu hartosna istri. Élmu kadugalan anu geus dicangking, henteu asa-asa langsung dipiceun. Lajeng Prabu Boros Ngora maluruh élmu sajati anu baris mangpaat pikeun rahayat Panjalu. Prabu Boros Ngora dibekelan gayung bungbas ku ramana, gayung anu barolong handapna. Éta gayung téh kedah dieusian ku cai, kalayan caina ulah nepi ka bocor. Saliwatan mah tangtu baé asa pamohalan. Kilang kitu, Prabu Boros Ngora henteu wantun baha, ngalalana maluruh élmu sajati, tug dugi ka anjog ka Mekah, nepangan Sayidina Ali. Tangtos baé Sayidina Ali nungtun Prabu Boros Ngora sangkan ngagem agama Islam, sarta ngawiridkeun élmuning Islam. Basa Prabu Boros Ngora parantos diwidian mulang deui ka Panjalu, Sayidina Ali maparin sawatara pusaka, saperti pedang, cis, jsté. Teu hilap, Sayidina Ali ngawadahan cai zamzam kana gayung anu barolong handapna téa. Tétéla, ahéng pisan, cai zamzam henteu bocor, tiasa kacandak ka Panjalu. Leuwih ahéng deui, barang Prabu Boros Ngora dugi ka bali geusan ngajadi, Panjalu, lajeng cai zamzam dibahékeun ka legok Jambu. Cai sagayung dadak sakala jadi ngagulidag minuhan legok jambu. Breh jadi hiji situ. Gayung bungbas dibalangkeun ka lebah Gunung Sawal, janggélék jadi tangkal paku sorok. Ari caina anu nyarakclakanna dadak sakala robah jadi kulah di sabudeureun gunung Syawal. Prabu Boros Ngora dijenengkeun jadi papayung agung karajaan Panjalu, ngagentos rakana, Prabu Lembu Sampulur II. Puseur karajaan anu saméméhna di Dayeuh Luhur, dialihkeun ka Nusa Gedé, pulo anu dilingkung ku Situ Léngkong. Prabu Boros Ngora ngawitan syi’ar Islam, kalayan kénging pangbagéa ti sakumna rahayat Panjalu. Hanjakal, henteu mendak katerangan saha-sahana anu jadi praméswari mangsa jeneng Prabu Boros Ngora. Nu écés mah Prabu Boros Ngora gaduh dua urang putra, Prabu Hariang Kancana sareng Prabu Hariang Kuning. Ajaran Prabu Boros Ngora anu tetep nyantél nepi ka kiwari nya éta “Mangan karana halal, paké karana suci, ucap-lampah sabeneré”. * KIWARI seueur anu jiarah ka makam Nusa Gedé, tempat dikurebkeunana Prabu Hariang Kancana. Aya nu gaduh pamadegan, yén anu dikurebkeun di Nusa Gedé téh Wastu Kancana, rayina Déwi Citraresmi Diah Pitaloka, putra Maha Raja ti Déwi Laralisning. Malah KH. Abdurahman Wahid mah béda deui pamadeganna téh. Numutkeun Gusdur, anu dikurebkeun di Nusa Gedé téh Kiai Panjalu atanapi Sayyit Ali Bin Muhammad Bin Umar anu jumeneng dina mangsa karajaan Prabu Siliwangi maréntah di Padjadjaran. Pusaka titinggal Sanghyang Boros Ngora kiwari dirawatan di pasucian anu katelah Bumi Alit. Perenahna di kampung Ciméndong, gédéngeun bumina Radén Atong Cakradinata. Unggal taun sok diberesihkeun dina acara upacara nyangku. Ari nyangku téh asal kecapna mah tina basa Arab yanko’ anu hartina ngaberesihkeun. Digelar saban bulan Mulud, poé Senén atawa Kemis, minggu panungtung. Sasarina sok dilaksanakeun bari sakalian miéling Mulud Nabi Muhammad SAW. Anu dikumbah téh diantarana pedang, cis, kujang, keris komando, keris titinggal para bupati Panjalu, pancaworo, bangréng, goong leutik, jeung sakur pusaka anu dipibanda ku masarakat Panjalu. Diberesihan ku tujuh rupa cai meunang ngala ti Karantenan, Gunung Bitung, Citatah, Kubang Kélong, Cibatu Agung, Giyut Tengger jeung Situ Léngkong Panjalu.***
misteri situ lengkong panjalu